Selasa, 26 Oktober 2010
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Desember 2011
Tuyul
Seperti biasa, aku dan kawan-kawanku meramaikan malam dengan bersenda-gurau di gardu ronda yang terletak di sebelah pohon randu besar yang menutupi cerahnya lampu besar di sudut perempatan desaku. Apalagi ini malam minggu. Ah, pikir kami, “manjakke urip!” Dengan berbekal seteko teh hangat dan pacitan sepiring kue kering, kami memanjakan waktu di malam itu. Tak lupa, Gandrung (julukan temanku) seperti biasanya membawa karambol.
“Wis, sekarang karambolan aja! Daripada ngantuk!”
Begitu asyik menapaki sang waktu, sampai kutak menyadari pukul satu malam sudah berdentang di hadapanku. Mulut demi mulut menganga lebar layaknya diaba-aba seperti sedang PBB. Tiada lagi yang mampu menahan kantuknya. Namun, sekali lagi Gandrung menghidupkan suasana malam yang telah dicengkeram rasa kantuk yang begitu mengembang. “Ah, kalian ini! Cuci muka sana! Masak gitu aja udah ngantuk?”
“Halah, kamu tadi juga angop tah?” tukas Pethel (nama samaran). Pethel pun menepuk bahu Gandrung hingga Gandrung tersenyum malu dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Eh,” Darman (nama disamarkan) memulai suara, “Kemarin Mbah Minto diparani tuyul ya? Siapa yang tahu?”
“Wah, aneh-aneh saja ah! Tuyul itu takhayul ‘kan?” sambungku menyanggah ucapannya.
“Weh, ngeyel!”
“Alah, uwislah!” kucubit lengan Darman, “Buka matamu! Ngantuk tuh makanya ngomongmu ngelantur tak karuan gitu! Jaman sekarang mana ada Tuyul? Orang dari dulu juga tak ada tuyul! Udah, bubar aja. Aku sudah ngantuk banget.”
Suara sorak-sorai di antara kami pun terjadi. Malam rasanya hanya milik kami saja, semua sudah lelap ditelan mimpi-mimpi mereka, termasuk makam di seberang jalan yang bersenandung lirih mengisi pekatnya malam. Aku mulai tak kuasa lagi menahan perihnya kelopak mataku yang sudah sarat dengan perihal ‘kantuk’. Bergegas aku meninggalkan teman-temanku. Mungkin mereka mau tidur di gardu sampai pagi.
Selangkah demi selangkah aku berjalan menyeret kaki yang amat terasa berat untuk digerakkan. Tak lama kemudian aku tiba di rumah, karena rumahku memang hanya sejengkal saja dari gardu itu. Berlari kilat aku menuju kamar mandi dan menimba air untuk sejenak menyegarkan wajah kuyuku. Suara denyit karet timba bergesekkan dengan katrol yang berputar membuat bulu kudukku sedikit berdiri. Begitu miris di hati.
“Byur!” ember timba tiba di permukaan air sumur. Aku pun menariknya. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil terkekeh ringan di belakangku. Dilanda penasaran, kutolehkan kepala ke belakang, tapi kosong menjawabku. “Majid?” tawa kecil yang kukira dari adikku.
“Ah, opo yo mau?” Gamangku menggelayuti. Pelan-pelan aku mengibaskan kepala, berharap semua ini hanya khayalan kantukku saja. Lalu kulanjutkan menarik karet timba yang tengah nggandhuli seember air.
“Hee.. hee.. hee..!” Deg! Suara itu kembali menggoda imanku. Secepat kilat aku pun membalik tubuhku ke belakang dan nihil menampang di ekor mataku. Sreet! Kutarik otot leherku dan kembali memandang ke arah depan. Sesosok tubuh kecil mungil tanpa busana bergoyang-goyang tepat di depanku. Aku melepaskan genggamanku pada karet timba. Kukumpulkan tenaga yang tersisa dalam kepalku lalu aku berusaha meninjunya. Namun sosok itu meloncat dan diraihnya lengan tangan kiriku dengan kedua tangannya, dan...
“Aaaaaaa....! Sakiiit!” suaraku menggelegar tanpa irama. Tanganku digigitnya sampai memar. Bekas gigitannya menunjukkan bahwa ia memiliki taring yang tumpul namun tajam. Amarahku memuncak, kutebas leher belakangnya dengan sisa tanganku. Setelah ia terkapar, aku memukulnya sekuat tenaga hingga ia tersungkur dua meteran.
Badanku lemah. Ayah dan ibuku terbangun menghampiriku.
“iii....itu!” kuberusaha menunjukkan tubuh sosok kecil seperti bayi itu kepada ayah dan ibuku. Sesaat lalu mataku sayu, kutergeletak pingsan dibarengi raibnya sosok itu. Esok harinya, aku tak mampu berucap sama sekali, tercengang dalam ketidakpercayaanku.
Mungkinkah sosok itu ialah jawaban yang selama ini menjadi sanggahanku? Tuyul?
(Kirimanku, di Harian Merapi)
Selasa, 26 Oktober 2010
Selasa, 26 Oktober 2010
Arwah Dunia Lain Bantu Pembangunan Musala
Kepercayaan terhadap hal-hal gaib sudah berkembang lama di desa saya. Dulu, banyak orang percaya bahwa pohon randhu alas di salah satu makam desa dihuni oleh dua orang perempuan yang gaib. Bahkan sumur tua yang berada tak jauh dari musala juga disebut-sebut sebagai tempat angker.
Meski zaman menjadi semakin modern dan banyak orang berpikir lebih rasional, tapi kepercayaan warga desa terhadap hal-hal gaib tak juga luntur. Meski sudah banyak yang menjalankan ibadah agama, hal-hal berbau mistis itu masih melekat pada mereka.
Ndilalah kopyah, belum lama ini terbukti ada kejadian aneh yang berhubungan dengan jagad gaib. Berlangsung saat musala desa dibangun. Ketika terjadi gempa 27 Mei tahun kemarin, banyak rumah did esa saya hancur, begitu pula musalanya. Menjelang Ramadhan 1427 H kemarin, ada beberapa warga desa memulai iguh pertikel untuk membangun musala. Banyak warga rela bekerja lembur sampai malam hari. Lebih lagi para pekerja mudanya.
Suatu malam, Yanto, Mugi, Surat, dan Tarman (semua nama samaran) mendapat jadwal gotong-royong. Awalnya suasana berlangsung biasa-biasa saja. Dengan cekat-ceket para warga melakukan tugasnya masing-masing, namun tiba-tiba suasana itu berubah saat Surat akan mengambil semen cor-coran.
Lahdalaaah! Surat sempat njondhil karena melihat paculnya ngudhak-udhak semen sendiri. Surat berteriak, “Sett, seeetaaan!”
MENDENGAR teriakan Surat, temannya datang untuk melihat apa yang terjadi. “Ada apa, Rat?” Tanya Mugi.
“Iiii, iiitu, lihaaat!” katanya sambil menunjuk pazul yang bergerak sendiri.
Paculnya bergerak terus. Tak beberapa lama, sosok penggera pacul itu mulai muncul sepotong demi sepotong. Ketika bentuknya mulai utuh, terlihat wajahnya bercucuran darah, tubuhnya penuh dengan luka-luka. Dia mengenakan baju sobek-sobek berwarna biru dan berdarah.
“Iitu, ituu kan, Suraji (nama samaran) yang meninggal karena gempa kemarin?” kata Yanto sembari menunjuk sosok yang muncul tiba-tiba itu. Karena takut, mereka langsung berlari memanggil Kiai Sutopo (juga samaran) dan menceritakan apa yang terjadi. Mereka lalu kembali dengan Kiai itu. Sampai di lokasi kejadian gaib itu, Suraji masih terlihat mengaduk semen.
“Masya Allaaah, Suraji, kamu itu sudah meninggal. Janganlah kamu mencampuri urusan duniawi. Tempatmu bukan di sini. Pulanglah ke alammu sendiri!” kata Kiai sambil mengawasi Suraji dengan tajam.
“Tenanglah. Aku tidak akan mengganggu warga. Aku hanya ingin membantu membangun musala,” katanya. Tak lama kemudian penampakan Suraji berakhir.
Namun seterusnya, arwah Suraji tetap membantu pembangunan Musala pada malam hari. Banyak warga keheranan karena musala itu cepat selesai dibangun. Mereka yang belum tahu sebab musababnya merasa bingung dan heran.
(Muh Zainuddin MS/Jbo)-e
(Cerpen “Jagat Lelembut”
dimuat di Harian Merapi Jogja tahun 2007)
(Cerpen “Jagat Lelembut”
dimuat di Harian Merapi Jogja tahun 2007)
Kamis, 01 September 2011
Rindu Kasih Ayah
Memiliki orang tua yang sayang pada putra-putrinya sudah barang menjadi idaman seorang anak. Bahkan sudah menjadi kodrat dari orang tua untuk dapat menghadirkan selimut kasih sayangnya pada buah hati mereka. Ya, itu sudah menjadi hukum yang tak akan terbantah oleh siapapun juga. Namun, apalah jadinya bila seorang ayah tak pernah lagi memberikan kasih sayangnya? Entah karena disengaja maupun tidak, ataukah sebatas lelah dan butuh masa pengembalian energi sehingga hal itu terjadi. Apa jadinya?
Mungkin hal itu sedikit mengglobal juga. Refleksi dari sebuah otot-otot, logika menghakimi segala perdaya, kepalan dan hentakan menjadi perisai, menjadikan watak seorang lelaki yang kusebut “ayah” itu setingkat lebih garang daripada seorang ibu. Kemudian dengan seenaknya, ataukah memang sudah kodratnya juga, memarahi dan memberikan apa yang tak sepantasnya anak dapatkan. Ya, seperti itu juga polemik dari seorang ayah, meskipun itu tak menjadi mutlak ketika salah seorang anak mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Ah, kasih sayang! Makanan rasa coklat dengan sedikit manis dan mengenyangkan. Kapan aku mengicipinya? “Sedikit sajalah!” Kadang aku menggerutu sendiri. Menyalahkan keadaan atau sekadar mengomel sendiri. Dimanakah garis-garis kasih sayang dari ayah yang sudah digariskan Tuhan untuk anaknya? Ataukah mungkin Tuhan lupa posisiku sehingga garis itu tak sampai padaku? Masak ‘sih Tuhan kehabisan pensil? Ah, bodohnya aku! Semua mimpi tentang ‘Taman Orang-Orang Perindu Hati’ terus menghantuiku. Otakku telah sarat dijejali material rindu dan kangen akan kasih sayang itu. Tuhan, bangunkanlah aku dan tawarkan aku sebuah pengabulanmu.
“Ibu, kapan ya Ayah belikanku sepatu?” desahku menyambut tangan ibu sesaat setelah aku pulang dari sekolahku, pukul 8 malam. Sebuah rutinitas yang memaksaku menenggak habis waktuku di sekolah, biar kutak memikirkan rumah, atau mungkin mempermainkanku biar kurindukan rumah.
Ibu hanya tersenyum kecil. Gurat-gurat senjanya terlihat begitu jelas menapak di dahinya. Terbayangkan betapa lelahnya ia mengasihiku. Dielus-elusnya rambutku, dan menyuruhku makan lalu mengambil jatah di kasur atau sekadar berbaring mengurai penat.
Deg!! Masih kuingat ketika ayah berkata aku tak bisa berhemat sepatu. Ah, bagaimana mungkin sepatu bisa dihemat? Akukah yang terlalu bodoh memanjakan waktu biar ia memamah habis sepatuku? Apakah mungkin aku dengan sengaja melubangi sepatuku biar mendapatkan mode yang baru? Ah, sungguh! Ini semua tak cukup membuat jiwaku afiat. Terbunuh sudah akal sehatku hanya berharap ayah dapat menyayangiku dengan tulus. Mengapa hanya meminta dibelikan sepatu saja harus kena marah yang menghujam? Terus dan terus kupakai hingga wujudnya usang tiada sedap dipandang lagi.
“Yah, Zai pamit dulu ya!” kumerunduk tak sedikit berani memandang tajam tatapannya. Kubalut dengan sedikit harapan pagi ini ayah memberikan perhatiannya. Sedikit saja katakan, “Hati-hati ya, Nak!”
“Ingat ya, kepalamu siap kupenggal kalau ayah tahu kamu pulang malam hanya untuk hura-hura!” jawab kecunya melontar kepadaku. Kubalas dengan anggukan. Berharap ia mampu menerjemahkan anggukan kecil itu.
Gumamku mengisi hati kecil ini. Itukah wujud sayangmu untukku, Ayah? Satu semester kau biarkan sakuku kering. Bagaimana bisa kau bilang aku berhura-hura? Perlukah aku mengemis di tepian jalan berharap segepok receh masuk ke saku kumalku? Tolong ayah, mengertilah. Aku sudah cukup dewasa untuk ini. Aku tahu harus menempatkan diriku dimana. Tak ada jurusan ‘pertongkrongan’ bagiku. Aku hanya ingin kau tahu. Tangisku bergeliat tak karuan dalam hati. Di rumah serasa hanya untuk mampir tidur kemudian pergi tak tahu rumah lagi. Kadang kalau aku malas pulang, kuteguk secangkir malam di kaki langit untuk memoles kepenatan ini dengan seutas cahaya dari langit. Mencoba berkhayal aku sedang kau manjakan dengan binar bulan yang terasa hangat berapi-api seperti ketika aku masih kau ayun-ayun dahulu itu.
“Pulanglah! Ayah menunggumu!”
Terkadang aku merasa ini bukan duniaku. Selamanya aku kan merasa tak pernah berkecukupan. Kasih sayang seorang kekasih, tak ada samanya dengan kasih sayang seorang ayah. Ia yang membuatku ‘ada’, sedangkan Meiya hanya sekadar membuat aku merasa ‘berada’. Meiya begitu sayang padaku. Mungkin ayahku juga. Tapi tak tahu hilang kemanakah rupa dari konsep khayalku itu. Kemanakah aku harus mengadu semua ini?
“Aku jenuh dengan semua ini!” gerutuku menahan tangis dalam diri. Kubiarkan saja kengiluan dalam dada ini terus bergeliat. Namun kuputuskan untuk mengantarkan Meiya pulang dahulu, barulah aku pulang.
Waktu menuntunku menuju persinggahan duniaku. Sesekali kutengok kiri-kanan jalan untuk mencari sekelebat angin kecil yang mungkin bisa menepiskan rasa sesak padat ini. Sesekali juga wajah ayah melintas dalam kekaburan malamku. Kujamah, kemudian ia hilang menelusup malam yang terasa dingin memeluk raga. Ah, sia-sia saja. Namun kutak peduli. Kukibas-kibaskan kepalaku biar kantuk juga tak merajaiku. Traumaku masih berapi-api oleh kecelakaanku tiga tahun yang lalu yang menelan tulang hasta tangan kananku, karena kumengantuk. Hmmm, terbayangkan nanti aku bisa berbaring lega di atas peraduanku mengingat besok tak ada ulangan, PR, maupun praktikum resep. Kuhela napas lega.
“Anak sial!”
“Plaaaaak!”
Kemerintih kesakitan, menahan geram dan rasa kalut yang sungguh, sembari memegangi pipi kananku yang memadam merah. Ekor mataku bertebaran menyusuri pelototan mata ayah yang teramat sadis dan bengis. Ingin rasanya aku melawan, tapi kuingat aku hanyalah bagian kecil dari hidupnya.
“Untuk apa sekolah kalau cuma pulang malam seperti ini terus!!”
Terpejam mataku seketika juga. Mana? Lhoh? Tak kena! Kusaksikan Ibu menahan lengan kanan ayah dari belakang. Rupanya lengan itu hendak berayun ke wajahku, mendaratkan tamparan yang mungkin kan terasa tak mengenakkan.
“Lepaskan, Bu! Lepaskan!” teriakku, “Untuk apa aku hidup kalau tak pernah disayang sama Ayah? Biarkan saja Ayah menamparku! Biarkan!” tangisku tempiaskan seluruh dayaku untuk katakan itu.
Ayah hanya tertegun. Cengang malam mencekam keheningan jiwaku. Kutak peduli lagi dengan semua ini.
“Tampar saja aku, Yah! Ambil parangmu, asah yang tajam. Biar saja aku mati tanpa kasih sayangmu! Aku pulang malam, karena kuselalu termenung meratapi Ayah yang terasa asing buatku! Malas rasanya aku pulang. Sekarang, bunuh sajalah aku!!”
Deg.. Deg.. Semua serasa berhenti. Waktu. Aliran darahku juga serasa beku. Ayah yang tadinya garang, kini tak lagi. Aku beranjak menuju Ibu, kupeluknya dengan erat. Kudekatkan suara batinku.
“Bu...” suara lirihku menyampaikan desah hatiku. Mungkin masih bisa terdengar, atau mungkin juga tak sampai ke telinga ibu. Lalu kulepaskan pelukan ibu, pergilah aku meninggalkan malam di hunian duniaku itu.
“Mau kemana?” bentakan ayah menghalangi langkah gontaiku.
“Tak usah pikirkan Zai, apalah artinya anakmu yang tak kau anggap ini!”
Seperti mimpi aku bisa berkata demikian. Seperti khayal aku bisa berucap itu pada Ayahku sendiri. Namun tak akan pernah kuasa kumenyimpannya rapat-rapat dalam hati. Biar sajalah aku merana. Merindukan kasih sayang seorang ayah yang tak bisa kuuraikan.
Dengan perasaan gelisahku, aku bergegas pergi tuk menenangkan hatiku. Handphone kumatikan, biar saja aku beradu dalam diri. Meiya pun tak kuberi kabar. Biar saja aku sendiri dalam pekat malam yang mengikat jerit nuraniku.
“Ayah, Zai sayang sekali pada Ayah!” suaraku tersengal-sengal dibarengi derai air mata yang membumi. Maafkanlah aku yang tak mampu menjadi bagian hidupmu dengan sempurna. Inilah aku, Yah. Aku anakmu, yang dititipkan Tuhan kepadamu. Kalaupun aku bukan titipanNya padamu, biarkan saja aku berlari dalam sendiriku. Aku tak akan pernah berharap sosok ayah yang lebih baik darimu. Karena bagiku, engkaulah yang terbaik di hatiku. Karenamu, aku bisa sebesar ini.
Sendiri tanpa serinai
Kelebat senja tak hadirkan, pengabulan atas rindu kasih
Mestika tanpa wahana
Cerita Tuhan belum menyata, bumi Ayahanda untuk daku
Bocah dalam prahara
Masih menunggunya mengawankan jiwa kering ini
Hadirlah...
(Zai : Rindu kasihmu, Ayah!)
(Kirimanku, di Harian Minggu Pagi)
Minggu Pagi No. 31 TH 63 Minggu V Oktober 2010
Minggu Pagi No. 31 TH 63 Minggu V Oktober 2010



23.26
M Zainuddin M Saputra