This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 Desember 2011
Tuhan, biarkan cahaya memilihnya!
Napasku memburu
sisa malam yang Tuhan pahatkan pada garis tanganku
ia memuncak
saat warna malam menjadi makin kucam oleh waktu
kemudian aku mengguratkan pita emasku pada tepianmu
hingga purnama menelanjanginya
menyibak segala risau yang merantaimu
mengibas gulana dan membawamu segenggam cahaya terang
agar kau tak lagi takut melayar
Bukankah Tuhan materialkan itu untukmu?
Tuhan, janjikan ia hal-hal indah yang tak dapat kujanjikan
karena kutahu janji-MU tiada kata ingkar
Tuhan, dan biarkan cahaya memilihnya!
(Zai, Mengadu dalam doa)
sisa malam yang Tuhan pahatkan pada garis tanganku
ia memuncak
saat warna malam menjadi makin kucam oleh waktu
kemudian aku mengguratkan pita emasku pada tepianmu
hingga purnama menelanjanginya
menyibak segala risau yang merantaimu
mengibas gulana dan membawamu segenggam cahaya terang
agar kau tak lagi takut melayar
Bukankah Tuhan materialkan itu untukmu?
Tuhan, janjikan ia hal-hal indah yang tak dapat kujanjikan
karena kutahu janji-MU tiada kata ingkar
Tuhan, dan biarkan cahaya memilihnya!
(Zai, Mengadu dalam doa)
Sabtu, 03 September 2011
Cinta!!!
Cinta datang dengan baranya
menyelip-nyelip di antara cerita
saat ku tahu cinta itu memang buta
buta, bahkan tanpa kacamata
Cinta pergi dengan lonjakan hati
meronta-ronta di pagi hari
saat aku terbangunkan oleh mimpi
mimpi, tanpa warna pelangi
Tapi aku pun tahu
cinta tak mudah begitu saja datang dan pergi
tetaplah jadi pengisi haru
haru saat kumeratapi sunyinya hari
Aku ingin cinta
cinta yang tetap suci dalam debu
cinta yang selalu ada
walau ragaku kan beku
di kujur liangNya
Aku tak ingin cinta
cinta yang menyelimuti selalu
dengan kebenciannya
kegarangan dan dendam yang membisu
Cinta
Genggam aku
Erat!!
menyelip-nyelip di antara cerita
saat ku tahu cinta itu memang buta
buta, bahkan tanpa kacamata
Cinta pergi dengan lonjakan hati
meronta-ronta di pagi hari
saat aku terbangunkan oleh mimpi
mimpi, tanpa warna pelangi
Tapi aku pun tahu
cinta tak mudah begitu saja datang dan pergi
tetaplah jadi pengisi haru
haru saat kumeratapi sunyinya hari
Aku ingin cinta
cinta yang tetap suci dalam debu
cinta yang selalu ada
walau ragaku kan beku
di kujur liangNya
Aku tak ingin cinta
cinta yang menyelimuti selalu
dengan kebenciannya
kegarangan dan dendam yang membisu
Cinta
Genggam aku
Erat!!
(Zai,
Cintaku)
Juli, 2009
Cintaku)
Juli, 2009
Gerhana Cinta
Cerita ini kian memadam
Ditapis gerhana bulan bermuka muram
Suara serindai kini tak lagi terekam
Semua diam
***
Pelan-pelan mencoba piara
Dua insan agar tak termakan umbra
Cepat-cepat mencoba tak jera
Mengusap gerhana pada mestika
***
Agar dia tak buta
Cinta yang nyata
Adanya dalam jiwa
Tak kubiarkan sirna
***
Namun
Kini hanya melamun
Ditapis gerhana bulan bermuka muram
Suara serindai kini tak lagi terekam
Semua diam
***
Pelan-pelan mencoba piara
Dua insan agar tak termakan umbra
Cepat-cepat mencoba tak jera
Mengusap gerhana pada mestika
***
Agar dia tak buta
Cinta yang nyata
Adanya dalam jiwa
Tak kubiarkan sirna
***
Namun
Kini hanya melamun
(Zai,
Gerhana Cinta Luka)
April, 2009
Gerhana Cinta Luka)
April, 2009
Rindu yang Terpenjara
Segumpal hasrat mengepul memayungi
Hati kecil yang sendiri
Mengikis pahitnya racun dalam duri
Lampiaskan semua jua tak sampai
***
Perbedaan ini adanya
Menambah rintang tuk bersua
Waktu
Kau mampu saat kutak bisa
Aku juga
***
Perbedaan ini hampir abadi bersemu
Menyisir helai mimpi tentangmu
Dimana?
Kau ada ketika ragaku tak beradu
Aku juga begitu
***
Rindu ini makin menggurat
Jelas tertapak sampai sarat
***
Tuhan, Kau Maha Adil
Rantai ini lepaskan
Jeruji ini hancurkan
Hasrat ini kabulkan
***
Ku ingin
Dapat berebut angin
Denganmu
Disaat kesuma merekah
Hati kecil yang sendiri
Mengikis pahitnya racun dalam duri
Lampiaskan semua jua tak sampai
***
Perbedaan ini adanya
Menambah rintang tuk bersua
Waktu
Kau mampu saat kutak bisa
Aku juga
***
Perbedaan ini hampir abadi bersemu
Menyisir helai mimpi tentangmu
Dimana?
Kau ada ketika ragaku tak beradu
Aku juga begitu
***
Rindu ini makin menggurat
Jelas tertapak sampai sarat
***
Tuhan, Kau Maha Adil
Rantai ini lepaskan
Jeruji ini hancurkan
Hasrat ini kabulkan
***
Ku ingin
Dapat berebut angin
Denganmu
Disaat kesuma merekah
(Zai,
Kerinduan yang Agung)
April, 2009
Kerinduan yang Agung)
April, 2009
Kerengsaan Cinta
Bila cinta mulai terkapar
Beri kekuatan agar dia segar
Sirami dia dengan ruh yang menawar
Terangi dia dengan cahya yang membinar
Agar rengsa tak lagi menjalar
***
Bila cinta mulai senja
Di pucuk tombak yang renta
Dia lemah tak berdaya
Luka, duka, lara yang merana
Kan jadi kawan di masa kelana
***
Ikat dia dengan keyakinan
Basuh dia dengan harapan
Janjikan dia mimpi yang menawan
Meski ulur tangan tak raih awan
Surga tetaplah jadi idaman
***
Bagi rengsanya cinta...
Beri kekuatan agar dia segar
Sirami dia dengan ruh yang menawar
Terangi dia dengan cahya yang membinar
Agar rengsa tak lagi menjalar
***
Bila cinta mulai senja
Di pucuk tombak yang renta
Dia lemah tak berdaya
Luka, duka, lara yang merana
Kan jadi kawan di masa kelana
***
Ikat dia dengan keyakinan
Basuh dia dengan harapan
Janjikan dia mimpi yang menawan
Meski ulur tangan tak raih awan
Surga tetaplah jadi idaman
***
Bagi rengsanya cinta...
(Zai,
Lemah)
April, 2010
Lemah)
April, 2010
Masih Disini
Masih disini sengaja merangkai sunyi
Coba kerlipkan bintang yang pasi
***
Masih disini kukuh dalam pejam
Tuk merajut mimpi yang karam
***
Masih disini mencari mustika
Dengkur bukan lagi sengaja mengejar mutiara
Coba kerlipkan bintang yang pasi
***
Masih disini kukuh dalam pejam
Tuk merajut mimpi yang karam
***
Masih disini mencari mustika
Dengkur bukan lagi sengaja mengejar mutiara
(Zai,
Kesungguhan Sebuah Harapan)
April, 2010
Kesungguhan Sebuah Harapan)
April, 2010
Gangsi Palsu
Mengukup waktu terlambat sudah
Meski harum semerbak dalam tadah
Bahu orang takkan merebah
Terangkat tak mengerti dalam gundah
***
Menyumbat hidung tak terpungkiri
Menggurah mulut tetaplah dusta
Kantongmu terlalu kecil demi kecilnya bangkai
Kutahu kau pengecut cinta
Meski harum semerbak dalam tadah
Bahu orang takkan merebah
Terangkat tak mengerti dalam gundah
***
Menyumbat hidung tak terpungkiri
Menggurah mulut tetaplah dusta
Kantongmu terlalu kecil demi kecilnya bangkai
Kutahu kau pengecut cinta
(Zai,
Persembunyian Sang Pengecut)
April, 2009
Persembunyian Sang Pengecut)
April, 2009
Denganmu
Teduh relung jiwa
Retas ngilu ini setelah lara
Rasakan kemilau intan ditimpa Surya
Menempa luka oleh berlian cinta
***
Kau ikat relung jiwa dengan seuntai mimpi
Kau tampis kengiluan yang merantai hati
Hangatmu masih berapi
Cintamu
Muarakan nganga perih menelan brendi
Retas ngilu ini setelah lara
Rasakan kemilau intan ditimpa Surya
Menempa luka oleh berlian cinta
***
Kau ikat relung jiwa dengan seuntai mimpi
Kau tampis kengiluan yang merantai hati
Hangatmu masih berapi
Cintamu
Muarakan nganga perih menelan brendi
(Zai,
Kuncak Gani Cinta Abadi)
Juni, 2009
Kuncak Gani Cinta Abadi)
Juni, 2009
Pita Biru
Pita biru untuk lubuknya hati
Mungil, tampiskan ego insani
Halaulah picik berselimut badai
Sirnakan kelabu Sang Mega pagi
***
Bila kau ingat
Engkau
Sengaja datang berandai-andai
Kurnia berdiri di kujur tengadah dirimu
Sengaja pergi tanpa harga diri
Gelakan tawamu peroleh sesaat hasratmu
***
Pita Biru
Kubawakan untuk egomu
Untuk Kau
Busungkan dadamu
Biar kusemat padanya
Harapkan lidahmu kunjung ungkapkan
Setidaknya pada Yang Esa
Sadar diri tuk kembalikan
(Zai,
Terima kasih, Perubahan)
Juni, 2010
Terima kasih, Perubahan)
Juni, 2010
Pekik Cinta
Tangis bukan mimpi di mata
Asam kau anggap manis yang terasa
Saat kau harus terpedaya cinta
Bukan dusta bila harus melunta
***
Kembali kau rengkuh
Dalam karut yang sungguh
Terkoar-koar pekik isakmu
Terangkai indah katamu dalam semu
***
Kembali kau raup
Duka nestapa saat surup
Nalarmu lumpuh laun meredup
Sejak embun pertama kau gugup
“Dengan cintakah kuharus hidup?”
Asam kau anggap manis yang terasa
Saat kau harus terpedaya cinta
Bukan dusta bila harus melunta
***
Kembali kau rengkuh
Dalam karut yang sungguh
Terkoar-koar pekik isakmu
Terangkai indah katamu dalam semu
***
Kembali kau raup
Duka nestapa saat surup
Nalarmu lumpuh laun meredup
Sejak embun pertama kau gugup
“Dengan cintakah kuharus hidup?”
(Zai,
Nestapa rona lembayung)
Juli, 2009
Nestapa rona lembayung)
Juli, 2009
Harapku Pada-MU
Ya Allah
Jadikan cinta ini indah dalam hidupku
Berikan hati ini ketabahan dalam mengiringi hidupnya
Meski kutak pernah tahu apakah sebentar lagi, nanti, atau besok akhir hidupku
Tapi izinkan aku menyayanginya sampai mataku terkatup olehMu
***
Ya Allah
Mungkin aku bukanlah seseorang yang dia tunggu
Tak banyak kata terucap padaku
Tapi dengan hati yang kukuh aku percaya
Ada aku di hatinya
***
Ya Allah
Maafkan aku bila tak mampu meyakinkannya dengan cintaku
Bantu aku membuatnya percaya bahwa memang benar kumenyayanginya
Berikanku batas untuk mebedakanku dengan yang lain
Hingga kubisa menjadi diriku sendiri
Untuk mencintainya
***
Ya Allah
Mengingatnya selalu menyenangkan
Merindunya membuat hatiku bergetar
Menyakitinya membuatku sakit
Melupakannya membuatMu murka kepadaku
Maka jagalah aku bersamanya
Biar kutak lepas langkah dalam sanubari
Sekokoh iman kan jadi perisai
***
Ya Allah
Kumenemukan sesuatu yang menguatkanku darinya
Meski ku sedikit bimbang ketika ia sedikit meragukanku
Hanya padamu aku mengadu
Akan kesungguhan tekadku untuk bersamanya
***
Cinta
Lihat sorot air mataku
Tampakkah kebohongan di sana?
Tidak bukan?
Kutak seperti itu
Karena memang kau satunya
Yang hidup dalam hatiku . . .
Jadikan cinta ini indah dalam hidupku
Berikan hati ini ketabahan dalam mengiringi hidupnya
Meski kutak pernah tahu apakah sebentar lagi, nanti, atau besok akhir hidupku
Tapi izinkan aku menyayanginya sampai mataku terkatup olehMu
***
Ya Allah
Mungkin aku bukanlah seseorang yang dia tunggu
Tak banyak kata terucap padaku
Tapi dengan hati yang kukuh aku percaya
Ada aku di hatinya
***
Ya Allah
Maafkan aku bila tak mampu meyakinkannya dengan cintaku
Bantu aku membuatnya percaya bahwa memang benar kumenyayanginya
Berikanku batas untuk mebedakanku dengan yang lain
Hingga kubisa menjadi diriku sendiri
Untuk mencintainya
***
Ya Allah
Mengingatnya selalu menyenangkan
Merindunya membuat hatiku bergetar
Menyakitinya membuatku sakit
Melupakannya membuatMu murka kepadaku
Maka jagalah aku bersamanya
Biar kutak lepas langkah dalam sanubari
Sekokoh iman kan jadi perisai
***
Ya Allah
Kumenemukan sesuatu yang menguatkanku darinya
Meski ku sedikit bimbang ketika ia sedikit meragukanku
Hanya padamu aku mengadu
Akan kesungguhan tekadku untuk bersamanya
***
Cinta
Lihat sorot air mataku
Tampakkah kebohongan di sana?
Tidak bukan?
Kutak seperti itu
Karena memang kau satunya
Yang hidup dalam hatiku . . .
(Zai,
Kesungguhanku)
Februari, 2010
Kesungguhanku)
Februari, 2010
Tak Lagi
Dulu ada segelintir cerita yang mewangi dalam hatiku
Menenggelamkanku, membawaku dalam hangatnya kehidupan
Dulu semua terasa segar dalam benakku
Mengibaskan duka, lara, penat, dan pedih yang merona
Dulu semua begitu membuatku damai
Menorehkan harapan dan impian yang selalu kuidamkan
Dulu kau begitu sayang padaku
Bahkan ketika aku beranjak dewasa
Dan ketika kau merasa kutak menyayangimu lagi
Berbicara dulu membuatku sedikit jera
Dilanda kepiluan yang memaku kokohnya hatiku
Kini tinggal bayang kelam tanpa hati
Ketika aku sadar, kini bukan dulu lagi
Menenggelamkanku, membawaku dalam hangatnya kehidupan
Dulu semua terasa segar dalam benakku
Mengibaskan duka, lara, penat, dan pedih yang merona
Dulu semua begitu membuatku damai
Menorehkan harapan dan impian yang selalu kuidamkan
Dulu kau begitu sayang padaku
Bahkan ketika aku beranjak dewasa
Dan ketika kau merasa kutak menyayangimu lagi
Berbicara dulu membuatku sedikit jera
Dilanda kepiluan yang memaku kokohnya hatiku
Kini tinggal bayang kelam tanpa hati
Ketika aku sadar, kini bukan dulu lagi
(Zai,
Kau Telah Berbeda)
April, 2010
Kau Telah Berbeda)
April, 2010
Tanpa Daya
Ketika kau butuh
Aku tak hadirkan diri
Ketika kau ingin
Aku tak berikan tingkahku
***
Siapa aku ini?
Aku sangat menyayangmu
Tetapi kutak punyai daya
Mungkin kau tak sayangiku
Tetapi kutak punyai daya
***
Tak mampu kuucap lara
Tak mampu kudengar jeritanmu
Tak mampu kulukis semangatmu
Tak mampu aku menyakitimu
***
Sayang
Aku disini selalu bagimu
Bahkan ketika kau tak butuh
Aku disni selalu berharap
Bahkan ketika kau lelap tanpa mimpi
***
Maafkan aku
Mungkin aku memang hina
Hingga kutak punyai daya apa
Untukmu
Aku tak hadirkan diri
Ketika kau ingin
Aku tak berikan tingkahku
***
Siapa aku ini?
Aku sangat menyayangmu
Tetapi kutak punyai daya
Mungkin kau tak sayangiku
Tetapi kutak punyai daya
***
Tak mampu kuucap lara
Tak mampu kudengar jeritanmu
Tak mampu kulukis semangatmu
Tak mampu aku menyakitimu
***
Sayang
Aku disini selalu bagimu
Bahkan ketika kau tak butuh
Aku disni selalu berharap
Bahkan ketika kau lelap tanpa mimpi
***
Maafkan aku
Mungkin aku memang hina
Hingga kutak punyai daya apa
Untukmu
(Zai,
Engkau Terlalu Indah)
April, 2010
Engkau Terlalu Indah)
April, 2010
Kau Kembali
Paras itu datang
Membawakan kasih yang pernah terasa
Hati itu kembali
Melengkapi khayalku yang hampir mati
***
Kumohon jangan pergi lagi
Biarkan aku menemani ragamu
Mencium kasihmu yang tak mampu kuartikan
Memanjakanmu dengan kangenku
Menggenggammu dengan tali hati
Membawamu ke dunia yang nyata
Hingga kuharus mengatupkan mimpi
Ketika Tuhan turunkan Izrail
***
Kumohon
Tetaplah disini
Mengisi hati yang telah pasi
Mengurai mimpiku akan kehadiranmu
Membawakan kasih yang pernah terasa
Hati itu kembali
Melengkapi khayalku yang hampir mati
***
Kumohon jangan pergi lagi
Biarkan aku menemani ragamu
Mencium kasihmu yang tak mampu kuartikan
Memanjakanmu dengan kangenku
Menggenggammu dengan tali hati
Membawamu ke dunia yang nyata
Hingga kuharus mengatupkan mimpi
Ketika Tuhan turunkan Izrail
***
Kumohon
Tetaplah disini
Mengisi hati yang telah pasi
Mengurai mimpiku akan kehadiranmu
(Zai,
Harapanku Saat Kau Disini)
Maret,, 2010
Harapanku Saat Kau Disini)
Maret,, 2010
Resah
Singsing wajah garangmu
Katupkan koar berangmu yang menghardik
Buang pelototanmu
Kibaskan benci yang merantai
***
Maafkanku karena cintaku
Mungkin tak tawarkan damai buatmu
Jangan kau ikat aku dengan kebencian
Karena aku mati tanpa ceritamu
***
Datanglah! Biarkan kucari makna
Arti hadir diriku
Dalam kesekian mimpi indahmu
Jadi jangan diamkan aku
Katupkan koar berangmu yang menghardik
Buang pelototanmu
Kibaskan benci yang merantai
***
Maafkanku karena cintaku
Mungkin tak tawarkan damai buatmu
Jangan kau ikat aku dengan kebencian
Karena aku mati tanpa ceritamu
***
Datanglah! Biarkan kucari makna
Arti hadir diriku
Dalam kesekian mimpi indahmu
Jadi jangan diamkan aku
(Zai,
Cinta Sedang Berang)
Februari, 2010
Cinta Sedang Berang)
Februari, 2010
Merindumu
Ingatanku tak lepaskan sekelebat cahyamu
Merajut mimpi yang membaur dalam jiwa
***
Ingatanku tak membiarkan bayangmu enyah
Menyibak sejuta rindu yang tersendam
***
Ingatanku membuatku terikat satu denganmu
Karena kau wahana rindu yang mencurah
(Zai,
Untuk cinta yang merindu)
Februari, 2010
Merajut mimpi yang membaur dalam jiwa
***
Ingatanku tak membiarkan bayangmu enyah
Menyibak sejuta rindu yang tersendam
***
Ingatanku membuatku terikat satu denganmu
Karena kau wahana rindu yang mencurah
(Zai,
Untuk cinta yang merindu)
Februari, 2010
Kesenyapan Seorang Insan
Mencari mentika di antara cinta dan kasih
Melemparkan lirikan pada hati yang menyusuriku
Memendam hasrat yang sebenarnya ingin
Tapi Tuhan tak beriku daya untuk pertingkah
Membiarkanku terkubur dalam hasrat yang mencekam
Melemparkan lirikan pada hati yang menyusuriku
Memendam hasrat yang sebenarnya ingin
Tapi Tuhan tak beriku daya untuk pertingkah
Membiarkanku terkubur dalam hasrat yang mencekam
***
Cinta… Cinta… Cinta…
Dulu kau datang lalu kemudian kau pergi
Membekaskan rindu lalu nestapa melara
Senyum yang pesti lalu duka yang mengharu
Menemaniku lalu kau pergi tak acuhkanku lagi
Tinggal aku yang menyepi
***
Sinarmu telah pergi
Tapi mentikaku masih bersatu
Biarlah kuterkubur dalam rindu
Memasrahkan diri pada Cinta Pertamaku
Kembali pada-Nya mendebur tangis tanpa jeda
(Zai,
Kesendirian Padma)
Kesendirian Padma)
Januari, 2010



20.49
M Zainuddin M Saputra